Untuk apa?
Kain putih tak mendapat noda
Hitam rasa tak mendua
Corak warna masih melukis
Kedua angsa yang bertahan
Dalam tangis dan tawa
Keduanya bukan pelangi
Bukan pula bintang dalam semesta
Tapi resah menusuk hati
Membuat hati bertanya
Dimanakan cintaku?
Walau waktu tak menjawab
Cinta tak mengenal jawaban
Cinta cukup setia
Cinta cukup menyimpan dalam hati
Cinta cukup dengan kejujuran
Karena cinta tak bertumbuh pada lidah
Karena kata-kata tak menjamin cinta
Namun sejalan dengan hati
Biarlah hati terluka
Biarlah hati resah
Asalkan cinta tetap tersampaikan
Asalkan sang mentari tau cinta masih ada
Hingga hati kecil mendapat malu
Jika cinta masih memilih setia
Merasakan rindu tapi merelakan
Tapi untuk apa?
Untuk apa cinta tanpa kejujuran?
Untuk apa cinta tanpa pembuktian?
Untuk apa cinta tanpa perbuatan?
Tak kan pernah ada artinya
Resah hati bukan alasan
Tapi maaf
Hati memilih setia
Biar saja jika ini menjadi sebuah rahasia
Sekedar rahasia hatiku
Yang tersimpan untuk seribu tahun lamanya
Bukan hal sia-sia jika hati memiliki yang tak dimiliki
Bukan juga kesedihan bagiku
Karena ketulusan mengenal kasih
Dan aku hanya punya ketulusan
Yang tak pernah kau hargai
Aku bagai belati yang berlumuran darah
Lalu
Untuk apa?
Bibir berdusta masih menyimpannya
Aku melepaskannya
Tapi takkan melupakannya
Aku mengikhlaskannya
Tapi takkan menghilangkannya
Hati kecilku masih bertanya
Untuk apa?
Tapi logika tak pernah sejalan
Untuk apa?
Sekedar kata yang tak lagi berarti
Sekedar perasaan tulus
Sekedar kesetiaan
Sekedar ketulusan penuh
Yang takkan pernah dihargai
Hati ini tidak menangis
Tidak!
Aku pernah rapuh
Tapi aku sudah bangkit
Karena
Sandiwara manismu takkan membuaiku

Komentar
Posting Komentar