Redup Yang Menyalađź’”
Dengan tangis awal mula sebuah patah hati
Detik itu berlalu begitu cepat tanpa peringatan
Sang fajar bahkan tak sempat menjemput pagi
Walau buta menyelimuti raga yang berputih tulang
Sebagian insan masih terlelap dalam mimpi
Beberapa diantara-nya tak mampu menutup mata
Pikiran dipenuhi cemas tiada henti
Doa dikumandangkan di samping kegetiran
Detik itu berjalan, mengejar kehilangan
Takut tatkala memandang rupa lalu berdiri
Gemetar sembari tangis menemani raga yang rapuh
Bila hati dapat bernyanyi maka lagu pedih pun mendengung
Melingkupi relung saksi getir kehilangan tersayang
Bercak getih menodai jubah putih
Ruang bercahaya pun terserang sesak kelam
Pelawat berbusana hitam berdatangan
Isak pedih terlepas di setiap sudut ruangan
Tak ada lagi cantik yang menyala
Tak ada lagi senyum bertabur tawa
Tiada insan nyala bersenandung nada-nada
Hanya peluh yang terus kian diusap
Hanya malam-malam pilu penuh rindu
Pada sang redup yang menyala

Komentar
Posting Komentar