Belahan Jiwaku
Aku tidak pernah mengira
Bila manusia memikat seperti dirimu
Akan mampu mengubah garis hidupku
Pertemuan tak disangka melepas ketakutan
Rindu hangatnya peluk sang mulia
Megah tubuhmu berjalan
Pesona garis lengkung pipimu
Perasaan tenggelam dalam mata rupawan itu
Betapa beruntungnya diriku
Sebab waktu membuat segalanya bertemu
Sungguh penantian yang melegakan
Sebab merangkai kisah bersamamu
Adalah perihal menemukan belahan jiwa
Kau memang sungguh manusia luar biasa
Pelukmu mampu lepaskan laraku
Cintamu membuatku terbang bersama semestamu
Tanganmu menggandeng diriku melintasi gelap malam
Personamu mengajarkan diriku tentang perjuangan mulia
Tentang cinta yang tak semua manusia sempat merasakan
Harum tubuhmu melekat dalam ingatanku
Segala tentangmu membuatku tenggelam dalam sihirmu
Dalam riwayat hidupku, dirimulah yang paling mulia
Tak hanya mampu lepaskan lara dan berjalan bersamaku
Namun mulia hatimu juga menguatkanku akan hal yang tidak mungkin
Biarpun segala tantangan menanti
Bersamamu aku tidak takut
Sebab belahan jiwaku tahu, akulah satu-satunya
Sebab aku percaya, belahan jiwaku tak akan meninggalkanku
Biar waktu menjawab segala pertanyaan penuh pertumpahan
Pandang mataku dan lekatkan seluruh tubuhmu
Jangan hempaskan aku meski aku meminta
Jangan lepaskan aku meski dunia memerintah
Wahai belahan jiwaku
Dekapkan jemarimu dibalik leherku
Kecup aku dengan bibir manismu
Jangan berpaling walau semesta membenciku
Aku tahu mata itu menyuarakan keistimewaan cinta
Tetaplah berjalan, berlari dan istirahat bersamaku
Aku akan membiarkanmu menguasai gelap malam
Juga menuntunmu melalui hitam dan putih dunia
Tenanglah hai belahan jiwaku
Yang aku inginkan hanyalah cinta sederhana
Seperti kata yang tak sempat diungkapkan hujan kepada pelangi
Yang menjadikannya tiada
Dan seperti api yang mampu dilenyapkan angin yang mengembuskan dirinya
Aku ingin mencintaimu hingga ragaku melenyap
Genggam jemariku dan lepaskan lara hatimu
Biarkan sabdaku menghisap segala jenis luka-lukamu
Sebab aku punya hati yang siap sakit untuk sekedar melihat senyummu
Namun bila aku menyakiti hati muliamu
Tikam aku dengan belatimu hingga merahku tertumpah
Sebab kataku sering menyuarakan yang bukan dari hati
Pandang mataku meski tangismu tak mampu ditahan
Aku ingin mencintaimu dengan seutuhnya
Walau belatimu penuh cairan merahku
Setidaknya ragamu memelukku erat sebelum kepergian
Ingatlah aku sang nirmala yang menyakitimu
Sebab aku akan hadir dalam mimpimu
Berdansa bersama bayanganmu
Sang belahan jiwaku
Komentar
Posting Komentar