pelangi bulan oktober🌈
kala mata pertama memandang
kian jauh hati hanya dapat bersuara
melalui tatapan dibalik setiap pertemuan
oleh seorang lelaki tampan penuh senyum
yang garis sudut pipinya meronakanku
seorang lelaki sedikit kata
membiarkan aku berucap tentang warna
setiap hari memandangnya, terasa laraku sirna
seakan terhirup hilang dalam lubang hitam
sentuhan matanya merombak perasaanku
membawaku tenggelam di lautan berwarna jingga
hingga terbang ke langit biru muda
tulus ramah lakunya melelehkan perihku
seakan bertemu pangeran berkuda putih
tampan senyum dan lika-likunya
mengundang aku yang mati rasa kembali merasa
bulan itu hujan sering melanda
dan aku sedang duduk di belakangnya
terasa nyaman kian menumbuhkan benih cinta
tak kusangkal dirinya juga merasa
sejak tindakan ceroboh pelukku padanya
ternyata centilku dapat luluhkan dingin sikapnya
yang singkat padat tak biasa berkata
perlahan hatiku penuh namanya
perasaan yang sudah lama kulupa
awalnya hanya mengagumi perlahan
tak kukira akan datang harinya
dimana hanya berdua, tenggelam di pusat kota
raganya membawaku berkeliling di malam-malam
dibalik sinar bulan penuh cinta
pada hari kedua bulan kesayanganku
sejak itu hari-hari berikutnya bagai kesempatan bersua
sebelum sang pangeran pergi berkelana
dipenuhi oleh kehadirannya, di pagi hari
siang, juga petang menuju malam
ingin aku menyapanya lebih lama
namun beruntungnya, tibalah kencan pertama
dadaku berdebar kian mengguncangkan pikiran
berada duduk di depannya, ditemani hidangan manis
dan garis rona pipinya yang lebih manis
ucapnya berkata mampu melihat rasa warnaku
penuh malu aku bertingkah pura-pura tidak tahu
walau ada lega juga takut ingin bersembunyi
namun mati gaya aku hanya mampu merona diam termalu
sore itu sebelum senja datang
petang yang meragu-ragukan
langit tampak mendung memenjarakan kota
saksi bisu kita yang berasmara dalam diam dan tenang
rintik-rintik perlahan turun
menjatuhi bumi dan kedua insan penuh asmara
yang sedang membara berdua
saling malu memandang
namun enggan meninggalkan
beranjak menuju pusat kota
kursi motor tampak dibasahi rintik yang berhenti
yang mereda hingga raga hendak berkelana lagi
aku kembali duduk di belakangnya
kurapati genggam tanganku dibalik jas hujannya
berdua memutari kota penuh rasa
dibalik penutup aku hanya mampu terdiam
sebab tingkahku tela terbaca pikirnya
perhentian ke dua pun sampai
tepat di minimarket terdekat
aku ditemani senyum gemasnya
berdua tenggelam dalam obrolan tak beraturan
berlarian ke sana dan kemari
seduhan sore itu dan makanan ringan
menemani mendungku dan pangeran berkacamata hitam
terbangun nyaman dibalik hujan dan petang
bulan itu diawali dan diakhiri tepat oleh hadirnya
lelaki sederhana berbalut kasih luar biasa
yang mampu menyihir langitku dan duniaku
bagai melukiskan pelangi di bulan Oktober
Komentar
Posting Komentar